Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2014

Kerja Sampingan Sabtu Minggu Ya Bisnis Online

Bila anda sedang mencari kerja sampingan sabtu minggukarena ingin menambah pendapatan atau mengisi waktu luang, maka bisnis online adalah solusinya.

Bisnis online merupakan bisnis yang dapat dijalankan dimana saja dan kapan saja yang terpenting ada laptop atau komputer seta koneksi internet. Jadi sebenarnya bisnis secara online itu tidak hanya dapat dijalankan pada sabtu dan minggu saja. Tetapi juga dapat anda jalankan di sela-sela kesibukan anda.


Karena bisnis online sendiri itu sangatlah banyak. Maka kali ini blog Ide Usaha dan Ide Bisnis Buatmu hanya akan menjelaskan tentang bisnis ppc. Bagi yang belum tahu bisnis ppc itu bisnis yang bagaimana. Semoga saja dengan penjelasan ini anda dapat memahaminya.

Bisnis PPC yaitu kita menyediakan space atau ruang di blog atau situs yang kita miliki untuk dipasangi iklan. Nah bila ada (pengunjung) yang mengklik iklan tersebut maka kita akan mendapat bayaran.

Jadi syaratnya harus memiliki blog atau situs. Bila semakin ramai blog atau situs yang kita miliki maka peluang mendapatkan klik juga akan semakin banyak. Untuk mendapatkan banyak pengunjung bagaimana? Yang terpenting yaitu optimasilah situs atau blog anda supaya menjadi SEO. Kemudian update-lah situs anda dengan konten-konten yang unik.

Nah karena anda ingin bekerja di hari sabtu dan minggu saja. Maka pada hari-hari itu anda dapat menulis artikel (semakin banyak menulis, semakin baik) dan posting di blog atau situs yang anda miliki.

Mungkin 1 sampai 2 bulan masih belum menghasilkan karena pengunjung masih sedikit. Tetapi pada bulan berikutnya anda dapat menuai hasilnya. Untuk broker dari PPC yaitu ada KlikSaya dan Google Adsense.

Sepertinya itu saja penjelasan mengenai kerja di hari sabtu dan minggu yang dapat dijadikan sampingan. Ingat jangan bilang itu sulit sebelum anda menjalankannya, dan jangan bilang itu membingungkan sebelum anda mencobanya.

Minggu, 01 Desember 2013

Naluri Bisnis Sukyatno Nugroho

BELAJAR DARI PENGALAMAN BISNIS SUKYATNO NUGROHO

Ini lah untaian pengalaman Sukyatno Nugroho, seorang lulusan SMP yang mengaku sebagai Pelopor Waralaba Tradisional di Indonesia dan sebagai pengusaha Es Teler 77. Prestasinya di bidang pembinaan pengusaha kecil selama ini menyebabkan dirinya mendapat anugerah Satya Lencana Pembangunan dari Presiden pada tanggal 12 Juli 1995 yang lalu.

Perjalanan hidup dan pengalaman bisnis Sukyatno Nugroho merupakan perjalanan yang panjang, seru, dan penih liku. Ia lahir di pekalongan tanggal 13 Agustus 1948. Bekal pendidikanya pun sangat pas-pasan, berijasah SMP dan hanya mencicipi kelas I SMA selama 3 bulan.
Di Sekolah Sukyatno juga bukan termasuk orang yang pandai. Ini dapat dilihat dari peringkatnya yang berada di ranking 40 dari 50 murid.Ia dikaruniai 3 orang putra/putrid, yakni, Felicia B.Sc – kini bekerja di Melbourne, Andrew masih menuntut ilmu di Sydney University, dan Fredella – juga masih melanjutkan studi Manajemen Perhotelan di Adelaide.

Istrinya, Yenny Setia Widjaja adalah seorang yang memiliki keahlian memasak. Orang yang hobinya bekerja ini pernah menjadi salesman alat-alat kontrasepsi, obat cina, bahan kimia, dan teknik. Ia juga pernah bekerja sebagai pemborong dan levelansir proyek-proyek pemerintah. Jadi ia tidak pernah menjadi pegawai bulanan. Tujuh belas tahun yang lalu, Sukyatno pernah mengalami bagaimana rasanya bangkrut dan terbelit hutang. Kalau di hitung-hitung, saat itu perbandingan hutang dan kekayaannya adalah 10:1. Itulah yang menyebabkan istrinya sampai berjualan bakmi di garasi rumahnya. Jangan heran bila untuk membayar uang sekolah anaknya pun, ia mengalami kesulitan.
“Saya sempat menitikkan air mata, ketika sampai tanggal 17 belum bisa membayar uang sekolah anak,” kata Sukyatno.

Liku-liku Usaha
Situasi sulit yangmelilit membuatnya bangkit. Tekadnya masak harus mati karena kegagalan?
Kemudian timbul keinginannya untuk memanfaatkan keahlian yang dimiliki adiknya di bidang tata rambut. Langkah selanjutnya adalah melayangkan surat kepada produsen komestik bayi dan anak-anak. Dalam suratnya, ia diberi bantuan dana dan fasilitas guna mendirikan “Salon Anak-Anak Pertama di Indonesia”. Usahanya ternyata berhasil . Salon itu didirikan di kompleks pertokoan Duta Merlin, tempat belanja paling mewah di Jakarta saat itu. Tahun 1982 rupanya tahun keberuntungan baginya. Saat itu mertuanya, Nyonya Murniati Widjaja, memenangkan lomba Es Teller di Duta Merlin. Naluri bisnis Sukyatno Nuhrohomengatakan bahwa kesempatan itu harus disambar secepatnya.

Bersama mertuanya, sukyatno segeramembuka usaha Es Teller. Hebatnya di papan nama di tulis “Es Teller Juara Indonesia”. Alasan waktu itu, baru sekali ada lomba semacam itu dan mereka yang jadi juara. Jadi sah saja apa yang dikatakannya waktu itu.
Usahanya memang terus berkembang, tapi bukan urusan gampang. Ia dapat masalah, sewa tempat di Duta Merlin dinaikkan 5 kali lipat. Kalau tidak mau , ia harus pindah dalam waktu yang sangat pendek. Tidajk ada alternative lain, ia pindah. Pukul 4 shubuh, ia baru membongkar kios. Dalam perjalanan pulang istrinya hanya bisa menangis karena putus asa.

Tapi rupanya keberuntungan masih berpihak padanya. Ia menemukan tempat lain di sebelah Gajah Mada Plaza. Datang lagi masalah. Ketika Es Teller dan Bakmi itu makin laris, pemilik kios juga menaikkan sewanya. Tidak tanggung-tanggung 10 kali lipat. Ia harus pindah lagi. Hanya saja, kali ini ia tak mau terlunta-luntalagi, langsung membuka cabang-cabang lain. Alasannya, supaya kalau tergusur lagi, bisnisnya tak langsung mati. Ketika itu jumlah cabang Es Tellernya ada 7 buah. Jadi sebetulnya ia sudah cukup memenuhi syarat untuk hidup lebih baik. Tetapi, ia lebih memilih untuk selalu mengisi hari-harinya dengan kesederhanaan dan kesibukan yang produktif. Baginya, setiap bentuk kemewahan harus ditunda, Itu sebabnya, kendaraannya mesih saja Jip dari harga yang paling murah dan kaos yang dipakainya sudah penuh dengan cipratan bara cengkih dari rokok kretek yang diisapnya.

Jangan heran bila setiap pukul 5 pagi, Sukyatno selalu terlihat di pasar Minggu untuk langsung sendiri belanja alpukat, nangka dan kelapa muda sebagai bahan baku Es Teller. Paling lambat pukul 7 pagi, ia sudah berada di pusat jejaring kios Es Tellernya yang berdekatan dengan Gajah Mada Plaza, sibuk mengatasi pembagian belanjaannya untuk dikirim ke cabang-babang kios s Tellernya. Dasar tidak bisa diam, ada saja kesibukannya.

Belum lagi hilang cucuran keringatnya, ia sibuk cari kesibukan lain. Mengeluarkan mesin ketik, memilih tempat duduk di deretan paling depan dari meja makan Es Teller dan Bakmi, kemudian sibukmengetik surat. Ini artinya ia ketik buka persediaan alpukat, nangka dan kelapa muda, tapi surat yang berisi ide-ide sebagai penyaluran bakat “edan”nya. Rupanya ke sinilah tersalurnya uang hasil jerih payahnya berdagang. Jadi, jangan heran bila suratnya mampir di meja menteri atau gubernur. Orang “edan” yang satu ini sering mengadakan berbagai macam lomba. Lomba memanfaatkan barang bekas, lomba poster lingkungan hidup yang membuat foto dan namanya terpampang di bulletin PBB terbitan New York, lomba melukis di atas kanvas terpanjang di dunia, lomba melukis bagi tunanetra, dan banyak lagi.

Sukyatno pernah menyelenggarakan 19 Loma dalam seminggu. Hebatnya lagi, panitianya ia sendiri, tanpa sekretaris ataupun asisten. Salah satu lomba yang ia selenggarakan adalah lomba dadakan, membuat gado-gado. Ketika pertama kali diadakan, kedua belasan juara. Semua juara tidak ada yang nomor dua mendapat hadiah Rp.25.000,- dan diberi spanduk bertuliskan “Juara Gado-Gado”.
Alasannya agar orang itu bisa memulai usaha sebagai penjual gado-gado. Dengan terpampang spanduk juara, tentu akan mengundang datangnya pembeli.

Era Waralaba
Pada tahun 1987 dengan segala keterbatasan pengetahuannya, Sukyatno mulai mempelajari dan menerapkan system waralaba (franchise) pada Es Teller 77 dengan mengoperasikan sebuag pabrik sederhana yang merupakan persyaratan mutlak system waralaba dalam usaha menciptakan standarisasi produk. Tidak berjalan mulus. Beberapa cabang yang dibuka mengalami kegagalan dan ditutup. Dari kegagalan-kegagalan yang yang dialami itulah Sukyatno terus melakukan penyempurnaan system usahanya. Boleh dikata, periode 1987-1990 merupakan periode perjuangan yang akhirnya menghasilkan revolusi bisnis waralaba Es Teller 77 – Juara Indonesia.

Kini Es Teller 77 telah mencapai 150 cabang yang terbesar di seluruh Indonesia dan menyerap 3.000 tenaga kerja. Hampir setiap minggu dibuka cabang baru. Untuk menampung pengunjung, ia melakukan pemasangan iklan di media dan melakukan kegiatan publisitas berupa acara-acara yang serba “edan” agar mengundang perhatian dan daya tarik banyak orang. Banyaknya cabang Es Teller, kini sudah tercatat di Museum Rekor Indonesia.

Saat ini, Es Teller 77 diarahkan pada lokasi di plaza dan mall dengan konsep “Small but Beautiful”. Luas outlet berkisar antara 30-50 meter persegi dengan biaya investasi antara 10 sampai 100 juta di luar biaya sewa. Pengalamannya sehari-hari menunjukkan bahwa pada umumnya titik impas (break even point) tercapai dalam waktu sekitar 6 bulan sampai dengan 2 tahun.


Selain mengelola Es Teller 77, Sukyatno Nugroho mendirikan Yayasan “ Perjalanan Mencerdaskan Bangsa”, menampilkan kegiatan sosial yang dilakukannya, antara lain berceramah tentang kewirausahaan dan waralaba. Jadi jangan heran bila ada yang member julukan “Dukun Francis” dan “Konsultan Amatiran” dan “Manusia Bisnis Asal-Asalan
Older Post ►
 

Copyright 2011 Blog abah